2 Minggu di Jakarta

Beberapa waktu lalu, aku kembali ke Jakarta setelah beberapa saat tidak lagi menjadikan kota ini sebagai tempat tinggalku. Pada waktu pesawat yang membawaku mendarat di bandara Soekarno Hatta, rasanya seperti aku sedang kembali ke my second home lagi. Perasaannya sama seperti sedang kembali ke kampung halaman. Entah karena benar-benar kangen dengan semua orang yang ada disana atau memang perasaan itu secara natural muncul. Entahlah.

Hari-hari singkat disana, saya habiskan dengan urusan pekerjaan yang sedikit menoreh rasa stres. Di setiap berada di jalan raya, aku menjadi begitu suka dengan macetnya Jakarta, rasanya sudah lama tak berjuang dengan suasana itu. Di kesempatan ini aku juga menyempatkan waktu untuk meet up lagi dengan beberapa teman untuk sekedar ngobrol, ngopi bareng atau dinner bareng. Rasanya semua moment itu begitu berharga, dan begitu berbeda sekali. Setiap pelukan yang aku dapatkan saat bertemu dengan mereka memberikan energi tersendiri sehingga aku kembali menjadi begitu bersemangat lagi.

Hal istimewa lain adalah ketika aku kembali ke beberapa ruas jalan di Jakarta Barat yang selalu kulewati dulu. Aku pernah berdiri bersama seseorang di flyover kanal banjir Tomang dimalam hari, pada saat itu dia mendoakan panggilanku disana. Sambil kami memandang deretan rumah-rumah dari Kelurahan Kalianyar dan gedung apartemen season city, dia terus mendoakan semua hal yang saat itu tampaknya belum begitu jelas selain kesan bahwa akan ada banyak kesulitan di depan sana yang akan ku hadapi. Malam itu aku kembali melihat pemandangan yang sama, namun sendirian berdiri di tempat itu. Aku berdiri dan kembali berbicara dengan Tuhan: “Tuhan sekarang yang Kau kehendaki untuk aku kerjakan sudah semakin jelas terbentang di depanku, dan kini sedang kuperjuangkan untuk dapat menyelesaikannya”.

Di hari terakhir di ibukota negera, aku kembali ke tempat yang dulu biasanya berjam-jam kuhabiskan untuk berdoa dan merenung, tempat itu di sebut “gazebo”. Kali ini aku tidak datang untuk mengeluh dan berteriak meminta tolong ke Tuhan lagi, tapi aku datang hanya untuk bersyukur, ku keluarkan buku catatan harianku dari tas dan aku kembali melihat catatan tanggal terakhir aku ada di tempat ini, aku tersenyum karena sederetan doa yang terucap kala itu sudah di jawab Tuhan. Betapa Tuhan yang Maha Tahu selalu mengatur semua jalan sulit seimbang dengan jalan kesenangan.

Dua minggu di Jakarta menjadi waktu yang indah, short escape yang memberikan energi baru. Aku berpikir bahwa kembali ke tempat dimana kita pernah berjuang dan menganggap sebagai second homenya kita adalah cara terbaik untuk merefresh semangat lagi. Bagaimana dengan kamu, apakah kamu punya cara yang lain?

5 respons untuk ‘2 Minggu di Jakarta

    1. Pada moment 2 minggu di jakarta saya benar suka dg macet, krn saya menjadi lebih lama di jalanan krn itu tanda unik dr jakarta. Tapi mungkin nanti kalo balik ke jakarta saya ga suka dg macet itu hahaha.

      Suka

    2. Pada moment 2 minggu di jakarta saya benar suka dg macet, krn saya menjadi lebih lama di jalanan krn itu tanda dr jakarta. Tapi nanti kalo tinggal di jakarta saya ga suka dg macet itu hahaha.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s