Bagian Pulau Timor yang Serasa di Korea

Background foto adalah kabut yang menutupi wilayah tersebut.

Saat berbicara tentang pulau Timor maka salah satu yang muncul di dalam pikiran orang adalah panas dan gersang.

Tetapi hal itu tidaklah selalu benar karena di Timor ada bagian-bagian daerah yang udaranya sejuk dan dingin bahkan untuk daerah yang akan saya ulas ini memang berbeda dimana membuat saya serasa sedang di Korea atau Jepang.

Plang petunjuk jalan sebelum jembatan panjang Noelmina yang ada di Timor

Yah, petualangan saya beberapa waktu yang lalu jatuh ke daerah yang bernama Fatumnasi, suatu daerah yang mulai ramai di kunjungi oleh wisatawan baik dari manca negara maupun wisatawan lokal yang terletak di Pulau Timor berdekatan dengan kota Soe.

Perjalanan saya hari itu di mulai dari kota Kupang menggunakan sepeda motor menuju kota Soe yang menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan. Di Soe kami memutuskan untuk makan sebelum melanjutkan perjalanan menuju daerah Kapan yaitu sekitar satu jam dari Soe dan akan lanjut lagi ke lokasi tujuan.

Sejak memasuki kota Soe suguhan udara dingin menjadi ucapan selamat datang dari alam yang menyambut kami. Bahkan temperatur udara semacam ini terus menemani perjalanan bersepeda motor kami menuju Kapan dan rute selanjutnya.

Setelah melewati pasar Kapan, kami masih harus terus melewati jalanan aspal kualitas biasa. Jalan yang berkelok-kelok dan menanjak ini mengarahkan kami pada perjalanan dengan suguhan pemandangan gunung-gunung yang berderet di kejauhan. Sesekali ada jalanan yang sedikit menurun dan akhirnya kami berjumpa dengan kondisi jalan yang belum beraspal tapi masih nyaman untuk dilewati.

Tampak deretan pohon jeruk khas Timor tumbuh berderet di sisi-sisi badan jalan. Apalagi pada saat itu sedang musim jeruk (dimana hanya sekali setahun) sehingga hiasan buah jeruk yang sudah matang berwarna orange-kekuningan yang kebanyakan masih belum di panen itu menjadi tambahan bagi keindahan pemandangan sekitar, sehingga membuat perjalanan tersebut seolah tak ada rasa capeknya.

Jalan tak beraspal ke arah fatumnasi yang di tutupi oleh kabut .

Selang beberapa saat kemudian deretan pohon pinus dan kabut yang menyelimuti ada di depan mata. Sekalipun waktu saat itu masihlah tengah hari tetapi kabut sudah menudungi pohon-pohon pinus di pegunungan. Termaksud jalanan yang kami lintasi, sehingga memberikan pandangan jarak pendek kepada pengendara kendaraan bermotor .

Akan tetapi itu bukanlah penghalang besar karena setelah hampir 5 jam perjalanan maka tibalah kami di tempat yang bernama Fatumnasi (Fatumnasi secara literal dalam bahasa Timor Dawan artinya batu tua). Sebuah gunung tempat bekas tambang batu mangan yang telah di tinggalkan oleh perusahan yang pernah mengambil hasil alam tanah Timor tersebut.

Di sekitar lokasi itu masih banyak berjejal batu mangan yang sudah di potong berukuran besar namun di biarkan begitu saja tergeletak berserakan di sana-sini. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa potongan batu-batu tersebut memberikan keindahan tersendiri. Saya sendiri memilih untuk mengabadikan lokasi tersebut dalam beberapa foto yang tersimpan di memori hp saya.

Potongan batu mangan yang berserakan di kaki gunung Fatumnasi

Di atas gunung batu mangan ini, pengunjung dapat memanjakan mata dengan memandang setengah dari pulau Timor. Bahkan pemandangan gunung berlapis dapat menjadi bonus besar bagi siapa saja yang beruntung jika kabut belum turun menutupi gunung tersebut. Saya sendiri hanya bisa memandang pemandangan tersebut 15 menit saja karena setelah itu, semua pemandangan tertutup oleh kabut putih yang membuat udaranya menjadi sangat dingin.

Pemandangan gunung berlapis dari ketinggian Fatumnasi.

Di sekitar lokasi ini tidak ada pedagang kaki lima seperti di lokasi wisata lain. Sehingga sebaiknya jika ke lokasi ini kita membawa makanan dan minuman sendiri. Karena biasanya perut suka menggerutu lapar tatkala berada di tempat dengan udara yang dingin. Saya sendiri sudah membawa kopi di tumbler saya dan snack sehingga bisa dinikmati di puncak sini.

Petualangan saya ke Fatumnasi memberikan kesadaran bagi saya bahwa Tuhan begitu ajaib. Karena di Pulau yang terkenal panas dan gersang ini, Dia mendesain satu lokasi yang membuat saya sedikit membayangkan Korea di tengah Pulau yang panas. Yah, mungkin kedengaran lebay tetapi saya membayangkan hal itu karena berkaitan dengan dinginnya yang super menurut saya dan pemandangan kabut putih seperti awan yang turun menyatu ke tanah sehingga membuat temperatur udara menjadi lebih membeku. Saya mengagumi betapa luar biasanya kemampuan Tuhan dalam menghadirkan iklim yang kontras tersebut di dalam satu pulau.

Kini Fatumnasi menjadi tempat wisata di Timor yang berpotensi mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar, karena semakin banyak pengunjung yang datang ke sana. Akan tetapi semuanya bergantung pada sejauh mana masyarakat disana diedukasi dan diperlengkapi oleh pihak yang berwenang untuk melihat peluang yang ada.

Perjalanan ke Fatumnasi juga menyadarkan saya bahwa di Pulauku yang sering di katakan panas dan gersang itu sebenarnya tidak semuanya panas dan gersang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s