Pulau Semau Tempat Liburan Yang Murah Namun Serasa Surga.

Awal tahun 2020 saya memutuskan untuk ada liburan pendek untuk diri sendiri yaitu ke Pulau yang sangat dekat dengan Kupang yaitu Pulau Semau. Pulau yang penyeberangannya hanya membutuhkan waktu 20 menit dari pelabuhan Tenau Kupang ini memang layak untuk di kunjungi untuk siapa saja yang menyukai untuk terhubung dengan alam yang masih sangat natural.

Saya tidak akan banyak menggambarkan dengan kata-kata tentang pulau ini tetapi saya akan membuat kalian semua untuk melihat langsung keindahan pulau ini dari foto-foto di bawah ini.

Pengalaman naik perahu kecil adalah pengalaman yang luar biasa karena seolah mengapung di atas lautan yang tenang.
Lautan biru dan langit yang cerah merupakan pemandangan indah sepanjang perjalanan menuju pulau Semau.


Destinasi kunjungan pertama adalah Kolam Otan, kolam yang airnya jernih dan ada kura-kura serta ikan kecil di dalamnya yang makin membuat kolam alam ini begitu indah. Duduk berlama-lama di kolam ini sangat menyenangkan karena adem dan tenang.
Kolam Otan
Kolam ini di pagari oleh batu-batu karang secara alami yang menambah keindahan dari kolam ini.
Keindahan pantai Otan
Pasirnya putih dan sangat cocok menjadi lokasi untuk menikmati sunset di sore hari.
Pantai Liman merupakan pantai yang memiliki pasir yang halus dan berwarna peach.
Sangat menyenangkan untuk bermain pasir sambil menikmati ombak di pantai Liman.
Ada danau di yang berbatasan langsung dengan pantai Liman
Pantai Uinian di kelilingi oleh batu karang yang memberikan keindahan tersendiri di bagi pantai ini.
Pasirnya sangat putih dan halus, obak di bagian pantai ini selalu menghantam batu-batu karang yang berjejer di pinggiran pantai yang makin membuat kita benar-benar kagum dengan keindahan pantai yang satu ini.
Keunikan pantai Uinian adalah dikelilingi oleh batu karang yang memberikan keindahan tersendiri bagi pantai ini.
Gua karang bertingkat dikelilingi dengan pohon-pohonan yang memberikan kesan horor.
Keindahan langit sore dalam perjalanan kembali ke Kupang

Bagaimana menurutmu? Pulau Semau layak di kunjungi bukan?

Karena itu jika berkunjung ke Kupang sempatkan untuk menyeberang ke Pulau ini.

Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini 2020 (Kupang)

Pada akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk menonton film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) di Kupang, rasanya terlambat sekali saya mengambil waktu untuk nonton film yang direkomendasikan oleh beberapa teman katanya “kamu wajib nonton film ini, bangus banget” sehingga pada akhirnya kemaren saya menjadwalkan diri untuk menonton film ini.

Sepanjang menonton film yang berdurasi dua jam satu menit ini, saya banyak memikirkan tentang fakta parenting saat ini, minimal dari keluarga sendiri, tetangga dekat dan juga dari orang tua siswa yang saya ketahui. Beberapa kali membuat saya memanjatkan syukur karena di besarkan dengan penuh cinta oleh kedua orang tua, layaknya Awan di NKCTHI namun benar juga bahwa saya tidak pernah tahu perasaan ketiga orang saudara laki-laki saya. Dimana saya tahu bahwa mereka tidak mendapatkan bagian cinta sebesar yang saya dapatkan dari kedua orang tua sama seperti Awan di antara kedua kakaknya.

Saya juga memikirkan beberapa teman dekat saya, dan mulai memahami alasan mengapa mereka “bergumul dengan beberapa keputusan hidup yang harus mereka ambil, yang tampaknya begitu sulit dilakukan padahal dimata saya gampang untuk membuat keputusan itu” apakah benar bahwa itu semua ada alasan dari dampak suasana di dalam keluarganya yang tidak terlihat di permukaan namun ada terselimut rapat di dalam rumah mereka dan hanya mereka yang tahu?

Film NKCTHI membuat saya sadar sesadarnya tentang beberapa hal:

  1. Tidak semua anak yang walaupun di besarkan dalam keluarga yang utuh tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh, sehingga mereka sudah terhilang di antara anggota keluarganya padahal setiap hari mereka ada di rumah mereka bersama keluarganya.
  2. Semua orang tua memiliki rahasia yang anaknya tidak ketahui, alasan di balik keputusan-keputusan yang mereka buat pasti ada alasan yang tidak mereka ceritakan kepada anaknya mengapa rahasia itu disimpan rapat.
  3. Ada anak yang kehilangan hak untuk memutuskan pilihan bagi dirinya sendiri karena semua pilihan hidupnya selalu ada orang tua yang ikut campur di dalamnya. Akibatnya anak tidak pernah tahu bagaimana mengambil satu keputusan yang tepat dan benar untuk hidupnya sendiri, dan ini terus terjadi meski mereka sudah sangat dewasa.
  4. Mama adalah tokoh penuh cinta yang hebat dalam keluarga, dia adalah pejuang pemersatu keluarga yang tidak pernah diberikan penghargaan. Namun dia ada di dalam setiap keluarga dan bertarung setiap hari. Mama adalah guru cinta terhebat di dunia.
  5. Kita wajib memutuskan untuk menemukan cara membahagiakan diri sendiri, meski itu adalah cara yang paling sederhana namun membuat diri sendiri bahagia adalah tanggung jawab kita sendiri, kitalah yang harus menemukan cara itu bukan orang lain.
  6. Untuk melihat horizon kesuksesan yang luas, tidak ada salahnya untuk kita memakai alat panjat yang ditawarkan oleh orang tua, saudara, sahabat dan siapa saja. Bukan nebeng sukses, namun ada kalanya untuk menemukan sukses versi kita, kita butuh alat dari mereka untuk memanjat ke atas tebing itu.
  7. Ada ketakutan dan trauma pribadi yang tidak bisa lepas dari diri kita sampai kapanpun kalau kita sendiri tidak mau berjuang untuk mulai mengambil langkah melepaskan diri dari ketakutan dan trauma masa lalu kita.
  8. Setiap anak di dalam keluarga memiliki kemampuan/talenta yang berbeda-beda, mereka semua butuh mendapatkan support yang sama dari orang tuanya untuk bisa meraih keberhasilan mereka di masa depan.

Semua hal yang di atas bertumpu pada satu hal bahwa saya beryukur untuk keluarga yang saya miliki saat ini, apapun keterbatasan dan kekurangan yang ada pada mereka, merekalah orang-orang dekat yang perlu saya banggakan dan saya cintai sampai akhir hayat. Dan dari merekalah saya belajar banyak nilai kehidupan yang memperkaya khasanah berpikir saya saat ini.

Tips Hidup Sehat 2020 di Kampung Kupang-Mudah dan Murah

Apabila berbicara tentang hidup sehat, maka topik ini sudah merupakan pembahasan yang umum di lakukan oleh orang-orang di kota yang umumnya sudah mengetahui tentang pentingnya hidup sehat. Namun bagaimana dengan orang di kampung?

Itulah sebabnya kali ini saya ingin memberikan tips hidup sehat di tahun 2020 ala orang kampung. Kampung yang saya maksudkan adalah desa atau dusun atau suatu daerah administrasi kecil di bawah kecamatan.

Apa saja tipsnya? yuk di baca…..

Pastikan lingkungan sekitar rumah selalu bersih

Entah di kota atau di desa, kebersihan lingkungan rumah adalah hal yang kudu wajib diperhatikan. Buat konteks di kampung, masalah kebersihan yang umum terjadi di sekitar lingkungan rumah adalah penumpukan sampah dedaunan atau rimbunnya pohon-pohon yang memungkinkan nyamuk bersarang di sana.

Karena itu penting untuk membakar sampah dedaunan yang sudah di sapu dan juga memangkas tanaman bunga ataupun pohon-pohon yang rimbun di sekitaran rumah. Bagian-bagian pohon yang rimbun dan berjuntai ke tanah yang memungkinkan untuk menjadi tempat bersarangnya nyamuk perlu di pangkas apalagi pada musim hujan seperti sekarang ini.

Hal lainnya adalah memperhatikan selokan air dan aliran air dari talang rumah, jika ada yang mampet atau tertutup atau rusak segeralah di perbaiki. Biasanya talang air suka tersumbat oleh daun-daun kering yang jatuh di waktu musim kemarau sehingga menghambat aliran air hujan yang jatuh ke talang air. Karena itu penting untuk mengecek lagi bagian-bagian ini.

Basmi sarang nyamuk

Biasanya di kampung, nyamuk memiliki banyak tempat bersarang. Mulai dari tempat penyimpanan air, gantungan pakaian, rimbunan tanaman di sekitaran rumah, talang air, got/selokan, dan di barang-barang bekas. Karena itu penting untuk membersihkan semua area ini, menyemprot dengan obat nyamuk ke area-area gelap di dalam rumah dan juga ke tempat-tempat seperti kolong tempat tidur, kolong lemari, dll.

Dulu di kampung saya biasanya sekitaran rumah di asap dengan memakai daun pepaya yang sudah kuning, yaitu dengan membakar daun pepaya yang sudah kuning ke bara api dan mengelilingi rumah. Alhasil asap yang dihasilkan mengusir nyamuk, namun kendalanya adalah tidak semua rumah memiliki tanaman pepaya yang cukup. Karena itu cara yang paling mudah adalah membersihkan tempat-tempat yang sudah saya sebutkan di atas tadi.

Jika ada jentik nyamuk di dalam tempat penyimpanan air segera di kuras dan di ganti dengan air yang baru lalu di tutup dengan rapat. Memang seringkali di banyak rumah di kampung tempat penyimpanan air mandi masih di dalam drum-drum atau tempat-tempat penyimpanan terbuka. Karena itu tidak salahnya coba mencari cara untuk menutup supaya nyamuk tidak bertelur disana dan berkembang biak. Jika itu dalam bentuk bak atau tempat yang sulit di tutup coba datangi puskesmas dan minta obat untuk mematikan jentik nyamuk yang biasanya di kasih secara gratis dari puskesmas.

Konsumsi sayuran segar dari kebun setiap hari

Salah satu keuntungan hidup di kampung adalah kita bisa menikmati makan sayur yang baru dipetik dan langsung di masak. Biasanya di kampung di musim hujan seperti ini, banyak sekali tumbuh sayuran di kebun.

Di rumah saya, biasanya di musim hujan seperti ini, ada tumbuh banyak sekali bayam hijau organik (kami tidak menanamnya dan tidak memupuk-tumbuh sendiri di kebun), daun singkong, daun kelor, daun moringga dan masih banyak sekali sayuran yang tumbuh di kebun tanpa kami menanamnya-sudah ada. Karena itu saya senang mengkonsumsi sayuran segar dari kebun, karena di jamin sangat sehat.

Di kampung biasanya sayuran tidak dimasak aneh-aneh, banyak yang di bening saja atau bahkan direbus saja. Walaupun dimasak sangat sederhana namun menurut saya ini sangat sehat.

Makan buah-buahan petikan dari kebun setiap hari

Nikmat lain dari tinggal di kampung adalah jarang membeli buah, karena buah pasti akan selalu ada mengikuti musim buah yang ada. Buah bisa diambil di kebun sendiri atau dikasih oleh tetangga kampung secara gratis. Karena itu biasakan untuk selalu mengkonsumsi buah, baik itu dengan di buat jus atau dimakan seperti biasa saja. Jangan lupa untuk mencuci bersih buah yang dipotong sebelum di makan.

Saya tahu ada beberapa orang di kampung yang tidak suka makan buah tertentu yang tersedia di kebun karena alasan tidak suka. Namun bagaimana jika mencoba makan buah dengan cara di jus, atau bisa juga dengan di buat rujak, atau manisan. Pasti jadi suka.

Karena itu silahkan temukan cara makan buah yang tepat ala kamu, yang penting kamu bisa tetap mengkonsumsi buah dengan teratur.

Tidur yang teratur

Orang kampung biasanya jam tidurnya lebih teratur dibandingkan dengan orang kota dan juga jam tidur orang kampung berbeda dari jam tidur orang kota. Biasanya di kampung saya di Kupang, orang sudah tidur sekitar jam 9 atau paling lambat jam 10 malam, lalu sudah akan bangun di jam 4 subuh untuk mulai beraktifitas. Dan menariknya orang di kampug saya pasti ada jam tidur siang setiap hari.

Walaupun demikian, saya tetap mengingatkan hal ini bahwa sekalipun itu sudah sangat baik namun tetap saja ada beberapa orang yang akan terganggu jam tidurnya karena harus menjaga kebun, menjaga hasil panen, menjaga hewan peliharaan di waktu malam agar tidak dicuri, dll. Karena itu sangat penting untuk tetap memperhatikan jam tidur yang ada, biar kita tetap sehat.

Minum air putih yang cukup

Saya merasa ini masih menjadi PR yang belum bisa dikerjakan oleh orang kampung sepenuhnya. Yahh…. soal minum air putih yang cukup. Di kampung saya sering saya memperhatikan orang-orang tidak minum air putih waktu bangun tidur, karena biasanya langsung meminum teh atau kopi. Jika di siang hari mereka kehausan kebanyakan mencari aneka minuman lain yang bukan air putih.

Jika disuruh untuk minum air putih biasanya pasti ada banyak jawaban ngelesnya.

Karena itu penting sekali untuk kita yang tinggal di kampung memperhatikan kebiasaan minum air putih seperti saran dokter yaitu 8 gelas sehari atau 2 liter per hari.

Nah.. itu dia 6 tips hidup sehat di kampung dari saya di Kupang yang bisa kamu contek karena mudah di lakukan dan sangat murah.

Apakah kamu punya cara hidup sehat yang mudah dan murah di kampung yang berbeda? silahkan dibagi disini biar kita sama-sama hidup sehat yah meski di kampung.

5 Tempat Nongkrong yang Layak Di Kunjungi Di Tanjung

Selama beberapa bulan menghabiskan waktu di daerah Tanjung-Lombok Utara maka saya memiliki beberapa tempat nongkrong favorit yang menurut saya layak kamu kunjungi juga jika sedang berada di daerah ini. Apa saja?

Bale Jukung

Ini merupakan tempat nongkrong favorit saya sejak pertama menginjakkan kaki di daerah Tanjung. Kafe yang keseluruhannya di desain dengan bahan dasar kayu dan ramah lingkungan ini memang sangat tenang sekaligus menyenangkan jika berlama-lama di sana baik sebagai tempat untuk bekerja ataupun nongkrong bersama teman.

Jika di malam minggu biasanya ada live music yang memanjakan telinga pengunjung dengan lantunan lagu-lagu akustik. Kafe ini memang wajib untuk di kunjungi jika berada di daerah Tanjung karena pelayanannya sangat okey dan ownernya super baik hati.

Bagi kamu pecinta kopi, maka ini adalah kafe yang saya rekomendasikan karena mereka menyedia beberapa minuman dari kopi dan juga mereka menjual kopi baik itu dalam bentuk bubuk maupun bean.

Kafe Bely

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah 20190923_193453.jpg

Kafe yang baru muncul di beberapa bulan lalu di daerah Tanjung ini, mengusung konsep garden. Lokasinya sangat strategis karena terletak di pinggir jalan utama Tanjung-Bayan. Kini tempat ini menjadi tempat favorit nongkrong para anak milenial setiap hari, karena memang harga makanan dan minumannya murah meriah.

Restorant Mina Tanjung

Beberapa bulan lalu tempat ini tidak begitu menarik karena setelah gempa mereka masih memiliki restoran yang biasa saja. Namun sejak November 2019 tempat ini sudah direnovasi sehingga menjadikannya sebagai tempat yang sangat direkomendasikan sebagai tempat nongkrong.

Bonus saat ada disini adalah kita bisa menikmati pemandangan pantai secara langsung karena lokasinya persis berada di pinggir pantai dan juga ada area hijau yang merupakan kawasan hotel yang sangat memanjakan mata.

Pantai Impos

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah 20190809_174056.jpg

Pantai Impos kini mulai menjadi lokasi nongkrong warga Lombok Utara. Mengapa? karena memang lokasinya sangat mudah di jangkau dan sudah di tata dengan rapi. Pada awal-awal bulan ketika saya berada di daerah Tanjung pantai ini masih sangat sepi oleh pengunjung karena memang belum di tata dengan rapi. Namun beberapa bulan terakhir, pantai ini begitu ramai di kunjungi di hari weekend maupun di hari biasa.

Menu makanan di sinipun sangat varian dan murah meriah, sehingga di jamin tidak akan melukai kantong sekalipun ingin seharian nongkrong disini.

Pantai Bintang

Ini merupakan pendatang baru sebagai tempat nongkrong di daerah Tanjung. Lokasinya berdekatan dengan pantai Impos sehingga bisa dijangkau dengan berjalan kaki beberapa menit jika pengunjung memilih untuk memarkir kendaraan di pantai Impos.

Pantai Bintang memiliki beberapa kelebihan dimana ada jembatan warna-warni yang menjadi tempat foto, ayunan dan di beberapa kesempatan ada fasilitas banana boat yang menyediakan jasa bagi para pengunjung yang ingin merasakan sensasi melintasi pantai itu dalam kurun waktu beberapa menit.

Nah itu adalah lima tempat nongkrong yang bisa kamu kunjungi saat berada di daerah Tanjung-Lombok Utara.

Bagian Pulau Timor yang Serasa di Korea

Background foto adalah kabut yang menutupi wilayah tersebut.

Saat berbicara tentang pulau Timor maka salah satu yang muncul di dalam pikiran orang adalah panas dan gersang.

Tetapi hal itu tidaklah selalu benar karena di Timor ada bagian-bagian daerah yang udaranya sejuk dan dingin bahkan untuk daerah yang akan saya ulas ini memang berbeda dimana membuat saya serasa sedang di Korea atau Jepang.

Plang petunjuk jalan sebelum jembatan panjang Noelmina yang ada di Timor

Yah, petualangan saya beberapa waktu yang lalu jatuh ke daerah yang bernama Fatumnasi, suatu daerah yang mulai ramai di kunjungi oleh wisatawan baik dari manca negara maupun wisatawan lokal yang terletak di Pulau Timor berdekatan dengan kota Soe.

Perjalanan saya hari itu di mulai dari kota Kupang menggunakan sepeda motor menuju kota Soe yang menghabiskan waktu kurang lebih 3 jam perjalanan. Di Soe kami memutuskan untuk makan sebelum melanjutkan perjalanan menuju daerah Kapan yaitu sekitar satu jam dari Soe dan akan lanjut lagi ke lokasi tujuan.

Sejak memasuki kota Soe suguhan udara dingin menjadi ucapan selamat datang dari alam yang menyambut kami. Bahkan temperatur udara semacam ini terus menemani perjalanan bersepeda motor kami menuju Kapan dan rute selanjutnya.

Setelah melewati pasar Kapan, kami masih harus terus melewati jalanan aspal kualitas biasa. Jalan yang berkelok-kelok dan menanjak ini mengarahkan kami pada perjalanan dengan suguhan pemandangan gunung-gunung yang berderet di kejauhan. Sesekali ada jalanan yang sedikit menurun dan akhirnya kami berjumpa dengan kondisi jalan yang belum beraspal tapi masih nyaman untuk dilewati.

Tampak deretan pohon jeruk khas Timor tumbuh berderet di sisi-sisi badan jalan. Apalagi pada saat itu sedang musim jeruk (dimana hanya sekali setahun) sehingga hiasan buah jeruk yang sudah matang berwarna orange-kekuningan yang kebanyakan masih belum di panen itu menjadi tambahan bagi keindahan pemandangan sekitar, sehingga membuat perjalanan tersebut seolah tak ada rasa capeknya.

Jalan tak beraspal ke arah fatumnasi yang di tutupi oleh kabut .

Selang beberapa saat kemudian deretan pohon pinus dan kabut yang menyelimuti ada di depan mata. Sekalipun waktu saat itu masihlah tengah hari tetapi kabut sudah menudungi pohon-pohon pinus di pegunungan. Termaksud jalanan yang kami lintasi, sehingga memberikan pandangan jarak pendek kepada pengendara kendaraan bermotor .

Akan tetapi itu bukanlah penghalang besar karena setelah hampir 5 jam perjalanan maka tibalah kami di tempat yang bernama Fatumnasi (Fatumnasi secara literal dalam bahasa Timor Dawan artinya batu tua). Sebuah gunung tempat bekas tambang batu mangan yang telah di tinggalkan oleh perusahan yang pernah mengambil hasil alam tanah Timor tersebut.

Di sekitar lokasi itu masih banyak berjejal batu mangan yang sudah di potong berukuran besar namun di biarkan begitu saja tergeletak berserakan di sana-sini. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa potongan batu-batu tersebut memberikan keindahan tersendiri. Saya sendiri memilih untuk mengabadikan lokasi tersebut dalam beberapa foto yang tersimpan di memori hp saya.

Potongan batu mangan yang berserakan di kaki gunung Fatumnasi

Di atas gunung batu mangan ini, pengunjung dapat memanjakan mata dengan memandang setengah dari pulau Timor. Bahkan pemandangan gunung berlapis dapat menjadi bonus besar bagi siapa saja yang beruntung jika kabut belum turun menutupi gunung tersebut. Saya sendiri hanya bisa memandang pemandangan tersebut 15 menit saja karena setelah itu, semua pemandangan tertutup oleh kabut putih yang membuat udaranya menjadi sangat dingin.

Pemandangan gunung berlapis dari ketinggian Fatumnasi.

Di sekitar lokasi ini tidak ada pedagang kaki lima seperti di lokasi wisata lain. Sehingga sebaiknya jika ke lokasi ini kita membawa makanan dan minuman sendiri. Karena biasanya perut suka menggerutu lapar tatkala berada di tempat dengan udara yang dingin. Saya sendiri sudah membawa kopi di tumbler saya dan snack sehingga bisa dinikmati di puncak sini.

Petualangan saya ke Fatumnasi memberikan kesadaran bagi saya bahwa Tuhan begitu ajaib. Karena di Pulau yang terkenal panas dan gersang ini, Dia mendesain satu lokasi yang membuat saya sedikit membayangkan Korea di tengah Pulau yang panas. Yah, mungkin kedengaran lebay tetapi saya membayangkan hal itu karena berkaitan dengan dinginnya yang super menurut saya dan pemandangan kabut putih seperti awan yang turun menyatu ke tanah sehingga membuat temperatur udara menjadi lebih membeku. Saya mengagumi betapa luar biasanya kemampuan Tuhan dalam menghadirkan iklim yang kontras tersebut di dalam satu pulau.

Kini Fatumnasi menjadi tempat wisata di Timor yang berpotensi mendongkrak ekonomi masyarakat sekitar, karena semakin banyak pengunjung yang datang ke sana. Akan tetapi semuanya bergantung pada sejauh mana masyarakat disana diedukasi dan diperlengkapi oleh pihak yang berwenang untuk melihat peluang yang ada.

Perjalanan ke Fatumnasi juga menyadarkan saya bahwa di Pulauku yang sering di katakan panas dan gersang itu sebenarnya tidak semuanya panas dan gersang.

Selayang Kisah Tentang Nanga Merakai

Membayangkan tentang kota kecamatan di Indonesia, maka sepengetahuan saya, merupakan suatu wilayah administratif dengan infrastuktur fisik yang lebih baik dari desa dan satu level dibawah kota kabupaten. Artinya ketersediaan infrastuktur seperti jalan raya pasti lebih di perhatikan pembangunannya. Sehingga lebih baik kualitasnya dan memungkinkan adanya jalan yang lebih nyaman bagi penggunanya.

Namun hal tersebut berbeda dengan sebuah ibu kota kecamatan yang terletak di wilayah Kalimantan Barat. Daerah tersebut adalah Ibu kota dari Kecamatan Ketungau Tengah. Kota yang merupakan pusat pelayanan perbankan bagi masyarakat dari 30an lebih desa yang ada di sekitar wilayah tersebut ini sama sekali tak terlihat adanya jalanan beraspal.

Di sepanjang jalan-jalan yang saya lewati, saya tidak melihat adanya aspal. Di beberapa bagian badan jalan hanya di rabat dengan semen saja. Selebihnya hanyalah jalanan tanah biasa. Dan beberapa jembatan yang terbuat dari kayu.

Salah satu jalanan yang menarik perhatian saya adalah jalan menuju Puskesmas, sebagai pusat layanan kesehatan di sana. Jalannya hanyalah jalanan tanah biasa yang begitu licin tatkala turun hujan. Sehingga suguhan pengendara sepeda motor yang jatuh tatkala melintasi area tersebut karena licinnya jalan menjadi pemandangan biasa bagi warga yang tinggal di sekitar jalur tersebut.

Kota Kecamatan ini juga menjadi tempat mengenyam pendidikan yang lebih tinggi bagi anak-anak desa yang hendak melanjutkan sekolah setelah tamat dari Sekolah Dasar di desa. Karena di kota kecamatan inilah terdapat sekolah SMP dan SMA.

Memang wilayah kota Kecamatan ini tidak luas, seperti kota kecamatan di wilayah lain yang ada di pulau Jawa. Karena itu tidak butuh waktu yang lama untuk mengitarinya. Hanya cukup dengan setengah jam bersepeda motor kita sudah bisa melihat seantero kota kecamatan yang suasananya masih begitu ramah, akrab dan tenang ini.

Di wilayah ini juga memiliki persoalan dengan koneksi internet yang sering terganggu. Sewaktu-waktu wilayah ini seolah-olah terisolasi dari dunia luar karena tidak tersedianya jaringan untuk telepon apalagi untuk akses internet.

Di wilayah ini untuk pemenuhan kebutuhan sayuran sehari-sehari, diperoleh dari petani yang datang menjual langsung dari desa hasil bumi mereka atau juga untuk beberapa sayuran dan bumbu masih diperoleh dari kebun rumah. Sedangkan untuk suplai produk pabrik di datangkan dari Sintang.

Gambar sayuran dari desa yang di jual petani ke kota Nanga Merakai.

Memang mungkin tak banyak orang yang akan suka dengan warna air yang dipakai mandi yaitu air dari sungai Ketungau yang berwarna sedikit coklat. Tapi kenyataannya adalah banyak pendatang yang bisa menggunakan air sungai ini sebagai air mandi setiap hari sampai hari ini sekalipun kelihatannya tidak bersih. Tetapi katanya kalau sudah mandi air sungai ini, seorang pendatang baru pasti akan datang kembali lagi ke Merakai. Entah untuk sekedar berkunjung atau untuk menetap disana.

Entah benar atau tidak perkataan ini, namun orang-orang di sana sangat meyakini akan hal ini sampai hari ini. Namun saya sendiri secara pribadi yang sudah pernah datang ke sana, dan mandi air sungai ini belum tahu apakah akan sekali lagi menginjakkan kaki ke kota kecamatan ini di waktu mendatang lagi.

Segelas Kopi yang Tak Biasa

Jika berbicara tentang kopi maka inilah minuman yang selalu saya minum untuk merayakan apa saja di hidup saya. Setiap ada satu cerita yang terjadi di hidup, entah itu cerita yang berurai air mata atau bertabur tawa. Kopi selalu menjadi minuman pilihan untuk merayakannya.

Ini bukan tentang warna atau rasa dari minuman ini saja, tetapi tentang moment dimana saya menikmati setiap tegukan demi tegukan dari minuman yang mendunia ini.

Kali ini saya menikmati segelas kopi Flores di salah satu kafe yang sedang nge-hits di Kupang. Pilihan ke tempat ini sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya tetapi karena kami sedang dalam satu perjalanan maka “mampir” adalah istilah yang tepat untuk keputusan ini.

Dan di lokasi kafe yang terbuat dari bambu dengan desain yang menarik ini,memang memanjakan mata karena adanya suguhan view lautan biru dengan pagar bebatuan karang khas pulau Timor. Hal inilah yang memberikan pengalaman menikmati kopi yang tak biasa. Harga kopinya pun tidak semahal harga kopi di tempat ngopi langganan saya karena itu saya sangat senang bisa mampir ke tempat ini.

Menit-menit yang saya lewati ketika menyeruput kopi hitam di cangkir putih di tempat ini, memang memberikan kesempatan bagi saya untuk berefleksi sejenak.

Disini saya begitu kagum dengan kepandaian yang Tuhan berikan kepada yang meracik kopi sehingga dapat menghasilkan segelas kopi Flores yang nikmat dan sayapun juga mengagumi orang yang mendesain kafe tersebut. Saya berpikir bahwa di dunia ini begitu banyak dilengkapi dengan keagungan Tuhan lewat apa saja yang ada di sekitar. Baik itu yang di ciptakan oleh Tuhan mapun yang Tuhan berikan hikmat dan pengertian kepada manusia untuk menciptakan.

Karena itu bagi saya, kesempatan menikmati secangkir kopi di kafe yang terbuat dari bambu ini adalah kesempatan menikmati segelas kopi yang tak biasa.

Pantai Senggigi, Pesona Alam yang Memikat Hati

Postingan kali ini tentang salah satu tempat favorit yang suka saya kunjungi akhir-akhir ini, silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang apakah pantai pilihan kedua.

Pantai yang sudah empat kali saya kunjungi di tahun ini berada di pesisir sebelah barat Pulau Lombok. Saya sendiri membutuhkan waktu 45 menit perjalan dengan sepeda motor untuk bisa tiba di pantai yang memang tidak sebesar pantai Kuta-Bali. Tetapi panorama alam yang ada disini tak kalah indah dengan pantai yang saya sebutkan tadi.

Semilir angin yang lembut selalu menjadi ucapan selamat datang yang saya terima saat berkunjung ke sini ditambah lagi dengan udaranya yang masih asri selalu menenangkan jiwa sehingga siapapun akan betah berlama-lama di sini.

Hari ini saya datang satu jam sebelum panorama fenomenal alam rutin itu bisa di saksikan disini yaitu sunset. Karena itu saya masih bisa merasakan udara panas, dan memanjakan mata dengan pemandangan degradasi pantai ini yang begitu indah sambil menikmati soft drink yang saya bawa. Saya duduk di bawah pohon yang ada di pinggiran pantai tersebut dan mulai untuk menulis sesuatu di laptop saya. Salah satu hal yang saya tulis adalah postingan ini.

Rasanya duduk santai di pantai ini adalah pilihan yang sangat tepat untuk menghapus rasa lelah dan jenuh dengan kesibukan pekerjaan yang suka menguras energi, pikiran dan emosi. Duduk di sini, selalu akan mencharge ulang tenaga. Duduk disini selalu memberikan saya inspirasi dan ide yang baru. Duduk disini membuat saya sadar bahwa hidup ini singkat, sebentar lagi akan berakhir seperti matahari yang pergi menghilang di balik pandangan alut dan semua yang dikerjar akan tertinggal di belakang.

Pantai Senggigi layak di kunjungi karena memang lokasinya sangat mudah untuk di jangkau, apalagi tersedia banyak pilihan transportasi yang bisa di gunakan untuk ke sini, mulai dari taxi, ojek ataupun angkutan umum. Jika dari kota Mataram maka hanya membutuhkan waktu perjalanan sekitar 30-50 menit sedangkan jika dari luar kota saya lebih menyarankan untuk kamu memesan penginapan di sekitaran daerah ini karena ada tersedia banyak pilihan penginapan disini sesuai dengan budget yang kamu punya. Saya sendiri berharap untuk suatu hari bisa mengambil waktu untuk menginap di salah satu hotel yang sudah saya incar yang persis di pinggiran pantai Senggigi denga fasilitas restoran Prancis yang mereka punya.

Pantai dengan laut biru dan beratapkan langit biru ini di kelilingi juga dengan pemandangan jejeran pegunungan yang membuat siapapun akan jatuh hati melihat pemandangan alam yang begitu indah ini. Di salah satu kunjungan saya ke sini, saya dapat menikmati pemandangan langit orange dan pulasan warna jingga dan biru yang berbeda yang belum saya lihat sebelumnya. Hari itu saya bisa melihat keagungan dari Tuhan yang tidak dapat di copy oleh siapapun.

Pemandangan lautan lain yang saya sukai adalah melihat jejeran kapal yang ada disana dan juga orang-orang yang berenang tanpa alat bantu apapun. Disini ada penyewaan kano, dan saya sering tertawa geli melihat beberapa penyewa yang baru pertama naik kano dan harus tercebur ke laut karena tidak bisa menjaga kesimbangan badan atau masalah lain. Hingga matahari terbenam, disini kita masih bisa meyaksikan ombak pantai yang berkejaran tanpa lelah yang melengkapi keindahan dari pantai.

Nah ini sepenggal cerita saya tentang pantai yang menjadi incaran para pecinta sunset, mungkin kamu sekarang bisa membuat jadwal untuk liburan ke Lombok dan menjadikan pantai ini sebagai salah satu destinasi wisata yang harus kamu kunjungi.

2 Minggu di Jakarta

Beberapa waktu lalu, aku kembali ke Jakarta setelah beberapa saat tidak lagi menjadikan kota ini sebagai tempat tinggalku. Pada waktu pesawat yang membawaku mendarat di bandara Soekarno Hatta, rasanya seperti aku sedang kembali ke my second home lagi. Perasaannya sama seperti sedang kembali ke kampung halaman. Entah karena benar-benar kangen dengan semua orang yang ada disana atau memang perasaan itu secara natural muncul. Entahlah.

Hari-hari singkat disana, saya habiskan dengan urusan pekerjaan yang sedikit menoreh rasa stres. Di setiap berada di jalan raya, aku menjadi begitu suka dengan macetnya Jakarta, rasanya sudah lama tak berjuang dengan suasana itu. Di kesempatan ini aku juga menyempatkan waktu untuk meet up lagi dengan beberapa teman untuk sekedar ngobrol, ngopi bareng atau dinner bareng. Rasanya semua moment itu begitu berharga, dan begitu berbeda sekali. Setiap pelukan yang aku dapatkan saat bertemu dengan mereka memberikan energi tersendiri sehingga aku kembali menjadi begitu bersemangat lagi.

Hal istimewa lain adalah ketika aku kembali ke beberapa ruas jalan di Jakarta Barat yang selalu kulewati dulu. Aku pernah berdiri bersama seseorang di flyover kanal banjir Tomang dimalam hari, pada saat itu dia mendoakan panggilanku disana. Sambil kami memandang deretan rumah-rumah dari Kelurahan Kalianyar dan gedung apartemen season city, dia terus mendoakan semua hal yang saat itu tampaknya belum begitu jelas selain kesan bahwa akan ada banyak kesulitan di depan sana yang akan ku hadapi. Malam itu aku kembali melihat pemandangan yang sama, namun sendirian berdiri di tempat itu. Aku berdiri dan kembali berbicara dengan Tuhan: “Tuhan sekarang yang Kau kehendaki untuk aku kerjakan sudah semakin jelas terbentang di depanku, dan kini sedang kuperjuangkan untuk dapat menyelesaikannya”.

Di hari terakhir di ibukota negera, aku kembali ke tempat yang dulu biasanya berjam-jam kuhabiskan untuk berdoa dan merenung, tempat itu di sebut “gazebo”. Kali ini aku tidak datang untuk mengeluh dan berteriak meminta tolong ke Tuhan lagi, tapi aku datang hanya untuk bersyukur, ku keluarkan buku catatan harianku dari tas dan aku kembali melihat catatan tanggal terakhir aku ada di tempat ini, aku tersenyum karena sederetan doa yang terucap kala itu sudah di jawab Tuhan. Betapa Tuhan yang Maha Tahu selalu mengatur semua jalan sulit seimbang dengan jalan kesenangan.

Dua minggu di Jakarta menjadi waktu yang indah, short escape yang memberikan energi baru. Aku berpikir bahwa kembali ke tempat dimana kita pernah berjuang dan menganggap sebagai second homenya kita adalah cara terbaik untuk merefresh semangat lagi. Bagaimana dengan kamu, apakah kamu punya cara yang lain?