Indonesia Dalam Enam Kamar

Indonesia adalah negara besar yang kaya akan keanekaragaman Agama, budaya, alam dan manusianya. Keberagaman inilah yang membuat saya sebagai anak bangsa begitu bangga terlahir sebagai putri dari bangsa yang besar ini.

Pengalaman saya saat bekerja di Lombok Utara adalah menakjubkan sekali karena di Homestay tempat saya tinggal selama setahun itu membuat saya melihat Indonesia yang sesungguhnya, Indonesia yang penuh dengan keberagaman dan toleransi yang membuat manusianya saling mencintai dan menghargai.

Di homestay dengan 6 kamarnya itu, setiap hari saya bertemu dengan Bu Ayu pemilik penginapan yang beragama Hindu yang sangat taat, setiap hari saya bisa menyaksikannya beliau mengatur persembahan sesuai dengan tata cara agama Hindu, baik itu di pekarangan penginapan maupun di loby homestay, baik sekali ibu ini.

Di kamar nomor tiga dan enam ada Dr. Frozi asal Padang dan Mba Junari asal Jawa Timur, dua orang muslim yang begitu rajin beribadah, tidak pernah alpa sholat 5 waktunya. Mereka benar-benar religius, saat mengagumkan melihat ketaatan mereka menjalankan ajaran agamanya.

Dikamar nomor lima ada pak Tirta seorang Katolik asal Bandung (hanya sebulan saja) dan di lanjutkan dengan pak Wisnu seorang Muslim asal Bali-Jakarta yang terlihat begitu mencintai keyakinannya, di kamar nomor dua ada saya asal Kupang yang berkeyakinan Kristen Protestan yang setiap hari memetik gitar menyayikan lagu-lagu gereja. Sedangkkan kamar nomor empat dan satu tidak ada tamu yang tetap, selalu saja ada yang baru yang datang menempati untuk beberapa hari dan cek out.

Pada pagi hari homestay ini akan sepi karena semua penghuninya berangkat untuk aktivitas masing-masing, beberapa mereka adalah kontraktor yang sedang membangun kembali banyak bangunan di Lombok Utara pasca gempa, ada yang dokter, ada yang pebisnis dan saya yang bekerja di NGO. Pagi sampai sore tempat ini akan sepi kecuali bu Ayu yang setia berada di sana.

Namun jika malam hari kami akan bersama duduk bersama, membawa makan malam masing-masing, share lauk, berbagi cerita tentang pekerjaan kami, dan juga cerita konyol lain yang suka bikin kami tertawa terpingkal-pingkal. Di musim bulan puasa kadang kami menikmati sahur bersama dengan mereka yang sedang melakukan ibadah tersebut, di hari raya nyepi kamipun benar-benar di kamar saja karena ibu pemilik sedang menjalankan hari rayanya. Dan di Natal saya mendapat ucapan natal yang penuh cinta dari mereka semua.

Meja bambu di depan rumah homestay itu selalu menjadi tempat yang meleburkan segala perbedaan, kami tahu bahwa masing-masing kami punya perbedaan dalam banyak hal. Namun kami semua bersaudara, karena itu saya sering berucap kepada mereka “kita ini Indonesia, Indonesia ada di disini, ada dalam 6 kamar” dan kami selalu bangga dengan fakta ini.

Banyak topik sering kami obrolkan bahkan kadang-kadang sampai topik agama, namun kami obrolkannya dalam sikap dewasa. Dimana tidak ada yang merasa paling benar dari yang lain, tidak ada yang merasa paling hebat dari yang lain, malah semuanya kami menikmati dan menghargainya.

Bagi saya inilah Indonesia, kisah nyata yang saya alami sendiri, dan karena kisah inilah yang membuat saya selalu merindukan Lombok Utara dan Northis Lombok Homestay yang sudah memberikan pengalaman yang berharga tentang keberagaman yang indah.

Semoga Indonesia akan selamanya beragam dan semua penghuninya terus mencintai kekayaan keberagaman itu sampai akhir hayat.